𝗥𝗔𝗚𝗔𝗠 𝗣𝗘𝗡𝗗𝗔𝗣𝗔𝗧 𝗧𝗘𝗡𝗧𝗔𝗡𝗚 𝗡𝗨𝗥 𝗠𝗨𝗛𝗔𝗠𝗠𝗔𝗗
Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq
Secara umum
pemahaman tentang Nur Muhammad itu dapat dikategorikan menjadi dua madzhab atau
kelompok. Kelompok pemahaman yang pertama adalah mereka yang meyakini bahwa
nabi Muhammad itu adalah Nur sebagaimana informasi tersirat yang ada dalam al
Qur’an.
Sedangkan kelompok pemikiran kedua adalah mereka
yang meyakini bahwa ada Nur Muhammad dengan beberapa sifat-sifat khusus yang
nanti akan kita jabarkan.
Untuk kelompok pendapat pertama kami rasa tidak
terlalu urgen untuk dibahas terlalu mendalam, toh ini hanya penafsiran ayat dan
perbedaan pemahaman tentang definisi Nur dari makna ayat, apakah itu hakiki
atau majasi. Seperti dalam ayat :
وَّدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ بِاِذْنِه وَسِرَاجًا مُّنِيْرً
" Dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah
dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi." (QS. Al Ahzab: 46)
قَدْ جَاۤءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌۙ
"Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya
(Nur) dari Allah dan kitab yang menerangkan." (QS. Al Maidah 15)
Al imam ath Thabari ketika menjelaskan ayat tersebut
beliau berkata :
قد جاءكم يا أهل التوراة والإنجيل من الله نور يعني بالنور
محمدًا صلى الله عليه وسلم
"Telah datang kepadamu wahai Ahli Taurat
(Yahudi) dan Injil (Nasrani) cahaya dari Allah." Yang dimaksud dengan
cahaya di sini adalah Muhammad shalallahu’alaihi wasalam.”[1]
Sehingga kemudian menurut pendapat ini menyebut
beliau shalallahu’alaihi wassalam dengan Nur itu bukan hal yang bisa dikatakan
keliru. Kalangan ini pun sebenarnya masih terbagi lagi menjadi dua kelompok
pendapat, antara yang mengatakan bahwa nabi Muhammad itu tercipta dari cahaya
dalam hakikatnya, dengan yang mengatakan bahwa beliau juga adalah manusia biasa
yang diciptakan sebagaimana manusia juga diciptakan.
Dan pendapat yang kedua ini adalah yang benar dan
yang diikuti oleh mayoritas kelompok ini.
Sedangkan ulama lainnya tentu tidak memaknai bahwa
cahaya yang disebut dalam ayat sebagai makna hakiki tapi hanyalah majasi. Nabi
shalallahu’alaihi wasssalam disebut dengan cahaya karena beliau membawa
terangnya hidayah dan petunjuk Islam.
Hal ini jelas
diterangkan juga dalam tafsir, semisal dari imam Thabari yang telah disebutkan
di atas, lanjutannya adalah :
قد جاءكم يا أهل التوراة والإنجيل من الله نور يعني بالنور
محمدًا صلى الله عليه وسلم الذي أنار الله به الحقَّ، وأظهر به الإسلام، ومحق به
الشرك، فهو نور لمن استنار به يبيِّن الحق. ومن إنارته الحق، تبيينُه لليهود كثيرًا
مما كانوا يخفون من الكتاب
"Telah datang kepadamu wahai Ahli Taurat
(Yahudi) dan Injil (Nasrani) cahaya dari Allah." Yang dimaksud dengan
cahaya di sini adalah Muhammad shalallahu’alaihi wassalam yang Allah menerangi
dengannya kebenaran, memenangkan Islam dan menghapus kesyirikan.
Dia adalah cahaya bagi siapa pun yang ingin
mendapatkan penjelasan tentang kebenaran. Menjelaskan sesuatu kepada orang-
orang Yahudi telah banyak menyembunyikan isi kitab.”[2]
Dan yang disebut sebagai cahaya dalam al Qur’an
bukanlah hanya Nabi shalallahu’alaihi wassalam tapi juga pihak lain,
diantaranya al Qur’an juga disebut dengan Nur, seperti firman Allah ta’ala :
فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِه وَالنُّوْرِ الَّذِيْٓ
اَنْزَلْنَاۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan
kepada cahaya yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (QS. At Taghabun: 8)
Para mufasir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan
cahaya di ayat ini adalah al Quran.
Namun untuk kelompok pendapat kedua, yaitu mereka
yang menyandarkan pemahaman dan keyakinannya bukan kepada tafsir ayat tapi
kepada hadits-hadits yang telah jelas disepakati ketidak sahihannya, tidaklah
sama dengan pihak yang pertama tersebut.
Mereka ini
menjadikan masalah Nur Muhammad sebagai bagian
dari masalah Aqidah yang dibangun di atas dalil yang bermasalah. Padahal ulama
telah sepakat bahwa hadits lemah tidak boleh digunakan untuk masalah hukum
apalagi Aqidah, apalagi jika ternyata dalilnya bukan sekedar lemah tapi hadits
palsu.
Meski kemudian kelompok pendapat ini juga masih
terbagi lagi menjadi beberapa tingkatan pemahaman. Paling tidak ada tiga
tingkatan, mulai dari yang masih tergolong moderat sampai yang ghulu (sangat
ekstrim). Berikut perinciannya :
𝟭. 𝗡𝘂𝗿 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶 𝗱𝗶𝗰𝗶𝗽𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻
Kalangan ini berpendapat bahwa berdasarkan hadits
Jabir bisa dipahami makhluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah Nur
Muhammad shalallahu’alaihi wassalam. Adapun hadits lain yang menyebutkan bahwa
makhluk yang diciptakan pertama kali adalah air dan dalam riwayat lain adalah
pena, maka ini bisa dikompromikan.
Berkata al Ajluni rahimahullah :
فيجمع بينه وبين ما قبله بأن أولية القلم بالنسبة إلى ما
عدا النور النبوي والماء والعرش انتهى، وقيل الأولية في كل شئ بالإضافة إلى
جنسه
“Dan dikompromikan antara riwayat sebelumnya, bahwa
yang pertama kali diciptakan adalah pena maksudnya selain air, nur kenabian dan
Arsy. Dan bisa dikatakan juga semuanya itu pertama sesuai dengan keadaan
masing-masing.”
Mereka berkata :
كل هذه الموجودات إنما وجدت من نور محمد صلى الله عليه
وسلم ثم تفرقت في الكون
“Semua yang wujud sesungguhnya hanya berasal dari
Nur Muhammad shalallahu’alaihi wassalam yang berpencar di alam semesta.”[3]
Juga dikatakan :
كما في حديث جابر أنه سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم
عن أول ما خلقه الله تعالى قال إن الله خلق قبل الأشياء نور نبيك فجعل ذلك النور يدور
بالقدرة حيث شاء الله ولم يكن في ذلك الوقت لوح ولا قلم ولا جنة ولا نار ولا ملك ولا
إنس ولا جن ولا أرض ولا سماء ولا شمس ولا قمر وعلى هذا فالنور جوهر لا عرض
“Sebagaimana tersebut dalam hadis riwayat sahabat
Jabir radhiyallahu 'anhu bahwa ketika ditanya perihal makhluk pertama yang
diciptakan Allah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab : 'Sungguh,
Allah menciptakan Nur Nabimu sebelum segala sesuatu.'
Allah menjadikan Nur itu beredar dengan kuasa Allah
sesuai kehendak-Nya. Saat itu belum ada Lauh, qalam, surga, neraka, malaikat,
manusia, jin, bumi, langit, Matahari, dan bulan. Atas dasar ini, nur itu adalah
substansi, bukan kiasan.”[4]
𝟮. 𝗡𝘂𝗿 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗮𝘀𝗮𝗹 𝘀𝗲𝗴𝗮𝗹𝗮 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂
Lebih jauh lagi dari sekedar meyakini bahwa Nur
Muhammad adalah makhluk yang pertama kali diciptakan sebagaimana yang diyakini
kelompok yang mengikuti pemahaman pertama, di kelompok pendapat kedua ini
mereka bahkan meyakini bahwa makhluk sebagiannya atau bahkan secara keseluruhan
itu berasal dari Nur Muhammad shalallahu’alaihiwassalam.
Mereka berkata :
اعلم أن أنوار الكائنات كلها من عرش وفرش وسماوات وأرضين،
وجنات وحجب، وما فوقها، وما تحتها إذا جمعت كلها، وجدت بعضًا من نور النبي، وأن مجموع
نوره لو وضع على العرش، لذاب
“Ketahuilah bahwa seluruh cahaya yang menerangi
Arsy, hamparan langit dan bumi, syurga dan apa yang ada di atas dan di bawahnya
jika dikumpulkan akan didapati semuanya dari Nur Muhammad. Dan jika semua
cahaya itu diletakkan di atas Arsy, maka ia akan meleleh.”[5]
Mereka berkata : “Nur Muhammmad adalah permulaan
makhluk, dan karena dialah Allah menciptakan alam seluruhnya.”[6]
Tentang para Nabi dan Rasul mereka mengatakan
kaitannya dengan Nur Muhammad :
كل النبيين والرسل الكرام أتوا نيابة عنه في تبليغ دعواه
فهو الرسول إلى كل الخلائق في كل العصور ونابت
عنه أفواه
“Setiap nabi dan rasul yang mulia datang adalah
untuk menggantikan dirinya, untuk menyampaikan dakwahnya. Dan dia adalah rasul
kepada semua makhluk di setiap zaman dan sumber dari apa yang disampaikan.”[7]
Mereka juga berkata : “Akal yang pertama dinasabkan
kepada Muhammad. Karenanya Allah menciptakan Jibril di waktu terdahulu. Maka
Muhammad adalah bapak bagi Jibril dan merupakan asal dari seluruh alam semesta
ini.”[8]
𝟯. 𝗡𝘂𝗿 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝘀𝗶𝗳𝗮𝘁-𝘀𝗶𝗳𝗮𝘁 𝗞𝗲𝘁𝘂𝗵𝗮𝗻𝗮𝗻
Di tingkat ketiga ini bahkan mereka sampai mensifati
Nur Muhammad dengan beberapa sifat-sifat yang memiliki ketuhanan bahkan mungkin
bagian dari Allah itu sendiri. Diantara ucapan mereka diantaranya adalah :
Nur Muhammad mengetahui al Quran sebelum diturunkan
kepadanya, mereka berkata :
اعلم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أعطى القرآن مجملا
قبل جبريل من غير تفصيل الآيات والسور
"Ketahuilah bahwa Rasulullah lah yang telah
menyerahkan al Qur’an dalam bentuk yang umum sebelum Jibril (mewahyukan) tanpa
perincian ayat dan surah.”[9]
Mereka juga berkata : “Allah adalah Dzat alam yang
ada, maka Allah menjadikan Nur Muhammad sebagai mahluk pertama. Lalu dari Nur
Muhammad, muncul makhluk semuanya, dan dialah (Rasulullah) yang mutajalli di
atas ‘arsy- dengan kata lain- Nabi Muhammad itu Tuhan yang dikecilkan dan
kepada dialah, kejadian segala makhluk bertumpu kepadanya.”[10]
Selanjutnya ada ungkapan bahwa Nur Muhammad itu
adalah qadim, ini banyak terdapat di kitab-kitab maulid, seperti yang
disebutkan dalam al Barzanji :
أصلي وأسلم على النور الموصوف بالتقدم والأوليه
“Aku mengucap shalawat dan salam untuk cahaya yang
bersifat terdahulu dan awal.”[11]
Meski sebenarnya sebutan qadim dan awal disitu bisa
jadi tidak bermakna seperti qadim dan awalnya Khaliq, tapi disandarkan ke
makhluk. Namun tak sedikit yang mengartikan ungkapan qadim dari Nur Muhammad
itu dengan pensifatan : "Nur itu bersumber dari Allah, maka apa saja yang
datang dari Allah, ia qadim karena Dia
juga qadim.”
𝗞𝗵𝗮𝘁𝗶𝗺𝗮𝗵
Sekali lagi untuk yang kelompok pendapat yang
menyatakan bahwa Rasulullah itu adalah Nur, itu bukan termasuk yang diingkari
oleh para ulama, karena jelas pemahaman tersebut tidak masuk ke ranah Aqidah
dan juga bukan membangun keyakinan di atas hadits-hadits palsu tentang Nur Muhammad.
Berbeda dengan pendapat setelahnya, yakni kelompok
pertama, apa lagi yang kedua dan yang ketiga, jelas bahwa keyakinan yang mereka
dengungkan ini adalah termasuk ranah Aqidah yang dibangun di atas dalil-dalil
yang sangat bermasalah.
Dan inilah yang kami tuju dengan seri tulisan kami
tentang Nur Muhammad ini yang insyaallah akan kami bahas dengan menggunakan
ilmu para ulama yang menggunakan hujjah al Quran dan sunnah nabiNya
shalallahu’alaihi wassalam.
Bersambung…
____
[1] Tafsir ath Thabari (10/143)
[2] Tafsir ath Thabari (10/143)
[3] Farq al Mu’asharah (3/1012)
[4] Madarijus Shu’ud hal. 4
[5] Al Ibriz li adz Dzibagh hal. 199
[6] At Ta’rifat hal. 90
[7] Nafahah al Aqdasiyah hal. 17
[8] Al Insan Al Kamil hal.4
[9] Kibriyah al Ahmar hal 6
[10] At Ta’liqat ‘ala Fushush Al Hikam (2/320)
[11] Al Barzanji hal. 4